Rupiah Kembali Lesu, Pagi ini Rupiah Rp.14780/US$ Terlemah di Asia

banner-panjang

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah di kurs tengah Bank Indonesia (BI). Rupiah juga lesu di perdagangan pasar spot.

Pada Rabu (2/9/2020), kurs tengah BI atau kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor berada di Rp 14.804. Rupiah melemah 1,29% dibandingkan posisi hari sebelumnya.

Di ‘arena’ pasar spot, rupiah terisap kian dalam di zona merah. Pada pukul 10:00 WIB, US$ 1 setara dengan Rp 14.780 di mana rupiah melemah 1,48%. Kala pembukaan pasar, rupiah melemah 0,24%.

Seperti halnya rupiah, mayoritas mata uang Asia lainnya juga tidak berdaya di hadapan dolar AS. Namun depresiasi yang lebih dari 1% itu membuat rupiah sebagai mata uang terlemah di Asia.

Berikut perkembangan kurs dolar AS terhadap mata uang utama Benua Kuning di perdagangan pasar spot pada pukul 10:07 WIB:

Mata Uang Kurs Terakhir Perubahan (%)
 USD/CNY 6.83 0.05
 USD/HKD 7.75 -0.01
 USD/IDR 14780.00 1.48
 USD/INR 73.00 -0.34
 USD/JPY 106.02 0.07
 USD/KRW 1185.98 0.04
 USD/MYR 4.15 0.17
 USD/PHP 48.61 0.02
 USD/SGD 1.36 -0.04
 USD/THB 31.23 0.26
 USD/TWD 29.34 -0.06

 

Mata uang Asia kerepotan meladeni dolar AS yang bangkit. Pada pukul 09:15 WIB, Dollar Index (yang menggambarkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,1%.

Harap maklum, dolar AS memang sudah lama teraniaya. Dalam sebulan terakhir, Dollar Index sudah anjlok 1,2%. Lebih parah lagi selama tiga bulan ke belakang, koreksinya mencapai 5%.

Oleh karena itu, akan tiba saatnya investor merasa mata uang Negeri Paman Sam sudah kelewat ‘murah’. Dolar AS menjadi seksi lagi dan layak untuk dikoleksi.

Sementara dari dalam negeri, Kemungkinan pasar merespons perkembangan terbaru dari partisipasi Bank Indonesia (BI) dalam pembiayaan anggaran negara. Kepada para jurnalis media asing di Istana Bogor, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa jika pertumbuhan ekonomi tahun depan bisa berada di kisaran 4,5-5,5%, maka skema yang disebut burden sharing tersebut mungkin tidak lagi dibutuhkan pada 2022.

Pernyataan Jokowi bisa dimaknai bahwa masih ada peluang pemerintah akan meminta bantuan kepada BI untuk membiayai defisit anggaran setidaknya hingga 2022, andai pertumbuhan ekonomi di bawah kisaran yang disebut Jokowi. Padahal kebijakan ini awalnya disebut-sebut hanya sekali pukul (one-off).

Sejak awal, pelaku pasar agak hati-hati menyikapi masuknya BI untuk membiayai defisit fiskal. Sebab begitu BI masuk maka pasokan uang beredar sehingga nilai tukar rupiah melemah.

Kini dengan prospek perpanjangan burden sharing setidaknya sampai 2022, pelaku pasar semakin cemas. Pasokan rupiah akan membludak sehingga ‘harganya’ bakal turun.

Sebelum itu terjadi, investor memilih cabut sekarang. Aksi jual massal membuat rupiah terpuruk.

Berita Terkait