Kurs Poundsterling Terus Menguat, Walaupun Masih di Terapkan “PSBB”

banner-panjang

Nilai tukar poundsterling Inggris menguat melawan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (25/9/2020), padahal Inggris kembali mengetatkan “PSBB”. Penguatan hari ini melanjutkan kinerja positif kemarin.
Pada pukul 14:20 WIB, poundsterling menguat 0,22% melawan rupiah ke Rp 18.966,42/GBP dan 0,18% melawan dolar AS ke US$ 1,2772 di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Perdana Menteri (PM) Boris Johnson pada Selasa (22/9/2020) lalu mengatakan Inggris kini berada di “titik balik yang berbahaya” sehingga ia perlu mengambil tindakan dengan mengetatkan pembatasan sosial.

Pengetatan dilakukan dengan membatasi jam operasional restoran dan pub, maksimal boleh buka hingga pukul 10 malam. Pembatasan tersebut kemungkinan akan berlaku selama 6 bulan ke depan.

Selain itu, warga yang bisa hadir di acara pernikahan kembali dikurangi menjadi 15 orang saja. Warga yang bisa bekerja di rumah harus melakukan itu. Tempat olahraga batal dibuka kembali pada 1 Oktober mendatang.

Saat pengumuman tersebut, poundsterling memang melemah melawan rupiah, tetapi setelahnya hingga hari ini mata uang Negeri Ratu Elizabeth ini menguat 3 hari beruntun. Sementara melawan dolar AS baru menguat sejak Kamis kemarin, saat Inggris menggelontorkan stimulus tambahan.

Menteri Keuangan Inggris, Rishi Sunak, kemarin mengumumkan paket stimulus untuk tenaga kerja, menggantikan stimulus lama yang akan berakhir bulan depan.

Dalam skema yang baru, pemerintah akan memberikan tambahan upah bagi para pekerja, dan akan berlangsung selama 6 bulan mulai November. Pekerja yang akan mendapat tambahan upah harus bekerja minimal sepertiga dari waktu normal. Pemberi kerja akan memberikan upah sepertiga dari normal, dan sisanya akan disubsidi pemerintah.

Paket stimulus ini ditujukan untuk bisnis kecil dan menengah di seluruh Inggris.

“Saya tidak bisa menyelamatkan semua bisnis, saya tidak bisa menyelamatkan semua pekerja, tidak ada menteri keuangan yang bisa, tapi apa yang bisa dan harus kita lakukan adalah menyelesaikan masalah sebenarnya yang dihadapi dunia usaha dan tenaga kerja saat ini,” kata Sunak, sebagaimana dilansir CNBC International, Kamis (25/9/2020).

Sunak juga mengumumkan VAT Rate atau pajak penjualan sebesar 5% akan diperpanjang hingga 31 Maret 2021. VAT Rate sebelum pandemi Covid-19 melanda sebesar 20%. /cnbcindonesia

Berita Terkait