Direktur GMF Tazar Kaji Bangun ‘Bengkel’ di Bandara Kertajati

banner-panjang

Plt. Direktur Utama GMF Tazar Marta Kurniawan mengatakan bahwa perusahaan telah memperbincangkan dengan pihak Bandara Kertajati terkait rencana tersebut.

“Sementara kami sudah membicarakan, masih dalam pembicaraan, sesuai dengan kebutuhan juga sebenarnya,” katanya, Selasa (25/6).

Pada tahap awal, ia menuturkan GMF akan mengoptimalkan penggunaan hanggar milik Angkasa Pura (AP) II di Bandara Kertajati untuk fasilitas perawatan pesawat. Namun, rencana pengembangan fasilitas perawatan tetap dibicarakan dengan pihak Bandara Kertajati.

“Kami harus utamakan yang dulu, kami akan optimalkan. Jadi kami tidak perlu lagi, yang itu paling cepat, Grup Garuda kami akan lakukan di sana,” imbuhnya.

Beberapa penerbangan dipindahkan ke Bandara Internasional Husein Sastranegara di Bandung ke Bandara Kertajati sesuai dengan izin pemerintah.

Maskapai Lion Air, AirAsia, Garuda Indonesia, dan Citilink akan dipindahkan mulai 30 Juni dan 1 Juli mendatang.

Lihat juga: Menko Darmin Klaim Ada Maskapai LCC Sudah Turunkan Harga

Targetkan Pendapatan US $ 1 Miliar

Entitas anak PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang menambah pendapatan sebesar US $ 1 miliar atau setara Rp14,1 triliun pada tahun 2021. Dengan raihan pemasukan itu, maka perusahaan bisa menjadi 10 perusahaan teratas Pemeliharaan, Perbaikan dan Perbaikan (MRO).

Untuk tahun ini, pendapatan perusahaan mencapai US $ 500 juta atau sekitar Rp7 triliun. Pasalnya, kinerja pada kuartal I 2019 ini kurang memuaskan.

Perusahaan hanya mampu mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 3,66 persen dari US $ 115,93 juta pada kuartal I 2018 menjadi US $ 120,18 juta per Maret 2019. Kenaikan pendapatan ini tidak mampu meningkatkan pertumbuhan pendapatan perusahaan.

Imbasnya, perusahaan dengan kode saham GMFI itu menurunkan laba sebesar 58,99 persen dari US $ 7,36 juta di kuartal I 2019 menjadi US $ 3,02 juta.

“Kami lihat di kuartal I 2019 masih belum nendang, belum cukup untuk mencapai target kami. Kami melihat ada puncak musim (puncak penjualan), di MRO kami biasanya puncak musim sekitar semester 2, jadi kami merangkak untung (laba) di situ,” katanya. //tempo

Berita Terkait