Nilai Tukar Dolar Singapura Menguat Ke Rp 10.836,75 Melawan Rupiah

banner-panjang

Nilai tukar dolar Singapura menguat melawan rupiah pada perdagangan Jumat (4/9/2020) dan berada di dekat level tertinggi sejak lebih dari 4 bulan yang dicapai di pekan ini. Dolar Singapura kini semakin disukai oleh investor, sehingga bisa terus perkasa.

Pada pukul 13:04 WIB, SG$ 1 setara Rp 10.836,75, dolar Singapura menguat 0,12% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Kemarin mata uang Negeri Merlion ini menyentuh Rp 10.878,66/SG$ yang merupakan level terkuat sejak 28 April.

Dolar Singapura kini menjadi salah satu mata uang Asia yang disukai pelaku pasar, hal itu tercermin dari survei 2 mingguan yang dilakukan Reuters.
Survei dari Reuters tersebut menggunakan rentang -3 sampai 3. Angka negatif berarti pelaku pasar mengambil posisi beli (long) terhadap dolar Singapura dan jual (short) terhadap dolar AS, begitu juga sebaliknya.

Hasil survei yang dirilis pada Kamis (3/9/2020) menunjukkan angka -0,99 dibandingkan 2 pekan lalu -0,69. Artinya terjadi peningkatan posisi beli dolar Singapura yang cukup signifikan. Menurut laporan Reuters, angka -0,99 tersebut merupakan yang tertinggi sejak awal 2018.

Baca: Awas! UOB Singapura Prediksi Kurs Dolar Australia Makin Mahal
Meski survei tersebut menunjukkan posisi dolar Singapura terhadap dolar AS, tetapi tentunya mempengaruhi pergerakan dolar Singapura terhadap rupiah juga.

Salah satu penyebab dolar Singapura makin disukai investor yakni stimulus fiskal yang digelontorkan pemerintahnya, guna meredam penyebaran pandemi penyakit virus corona (Covid-19), serta membangkitkan lagi perekonomian yang mengalami resesi.

Pada 17 Agustus lalu, Menteri Keuangan Singapura Heng Swee Keat kemarin mengumumkan paket stimulus senilai SG$ 8 miliar (US$ 5,8 miliar) untuk dunia usaha dan pekerja. Stimulus tersebut akan ditunjukkan untuk melanjutkan subsidi gaji pekerja, membantu industri aviasi, serta sektor hospitality.
Dengan tambahan tersebut, jumlah stimulus yang digelontorkan Pemerintah Singapura mencapai SG$ 100 miliar.

Singapura berbeda dengan negara maju lainnya yang harus membiayai stimulus fiskal dengan berhutang, menaikkan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB).

Singapura mampu membiayai pengeluaran fiskal berkat surplus anggaran yang dimiliki selama bertahun-tahun.

“Kemampuan untuk menggunakan cadangan fiskal yang besar dari surplus anggaran selama bertahun-tahun jelas merupakan keuntungan bagi Singapura,” kata Vishnu Varathan, kepada ekonom dan strategi di Mizuho Bank, sebagaimana dilansir Bloomberg News.

Sebelumnya, Bank investasi ternama, Morgan Stanley juga mengatakan Singapura sebagai tempat aman (safe place) di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.

“Kita bisa melihat inflow yang didukung oleh peningkatan persepsi Singapura sebagai safe place di saat terjadi ketidakpastian ekonomi dan politik regional,” tulis analis Morgan Stanley, Wilson Ng dan Derek Chang, sebagaimana dilansir CNBC International.

Berita Terkait