Data pagi ini Nila Tukar Rupiah Diangka Rp 13.888 per Dollar AS

Rupiah melemah bersama peso Filipina minus 0,18 persen, yuan China minus 0,04 persen, dan baht Thailand minus 0,02 persen. Sementara dolar Hong Kong dan rupee India stagnan.

Sedangkan ringgit Malaysia menguat 0,27 persen, won Korea Selatan 0,24 persen, yen Jepang 0,12 persen, dan dolar Singapura 0,03 persen.

Begitu pula dengan mata uang utama negara maju, mayoritas menguat dari dolar AS. Poundsterling Inggris menguat 0,24 persen, rubel Rusia 0,18 persen, dolar Australia 0,11 persen, dan euro Eropa 0,01 persen.

Hanya dolar Kanada dan franc Swiss yang melemah dari mata uang Negeri Paman Sam, masing-masing minus 0,01 persen dan 0,05 persen.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan pergerakan mata uang dipengaruhi oleh data tingkat pengangguran nonpertanian AS pada Mei 2020. Jumlah pengangguran meningkat 2,5 juta orang atau lebih rendah dari proyeksi pasar sebelumnya mencapai 7,7 juta orang.

Hal ini membuat tingkat pengangguran yang semula diperkirakan akan tembus 14,7 persen, kini hanya sekitar 13,3 persen. Data yang positif memberikan keyakinan pasar bahwa aktivitas ekonomi mulai membaik meski pandemi virus corona atau Covid-19 masih berlangsung.

“Sentimen positif masih akan mendorong penguatan aset-aset berisiko. Pasar masih berekspektasi positif terhadap upaya pembukaan ekonomi di negara-negara pandemi yang lain,” ujar Ariston kepada CNNIndonesia.com.

Sentimen lain, berasal dari kelanjutan ketegangan AS dan China. Namun, kedua negara belum mengambil keputusan terbaru, sehingga pelaku pasa masih cukup tenang untuk mengambil kesempatan berinvestasi di aset berisiko. //cnnindonesia